Menarik setitik Makna Syair Abu Nawas : Al I’tiraf

0 0
Read Time:3 Minute, 6 Second

Abu Nawas dikenal sebagai pujangga besar dunia dengan segudang karyanya dan dan diantara yang paling mencerminkan ikon tokoh ini adalah kisah-kisah jenaka yg sarat dengan makna kehidupan yang sangat menarik untuk direnungi dan ditarik pelajaran.

Abu Nawas sangat mahir dalam bersyair dan memiliki banyak karya, dan diantara syair-syairnya yang bernuansa religi ada satu karya yg paling dikenal khususnya dikalangan umat Islam yaitu syair Al I’tiroaf, sebuah untaian syair nan indah yang sering dibacakan dan dinyanyikan sebagai sebuah lagu dimasyarakat, syair tersebut jika diterjemahkan berbunyi sbb :

Wahai Tuhanku, hamba tak pantas menjadi penghuni syurga.

Namun, hamba pun tak sanggup menjadi penghuni neraka.

Terimalah tobat-tobat hamba dan ampunilah dosa-dosa hamba.

Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun atas segala dosa yang hamba perbuat.

Umurku berkurang setiap hari

sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

Wahai, Tuhanku!

Hamba Mu yang durhaka telah datang kepada Mu

dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.

Maka jika Engkau mengampuni, Engkaulah pemilik ampunan

tetapi jika Engkau menolak, kepada siapa lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Setelah membaca syair-syair ini penulis cenderung menyebutnya sebagai sebuah rangkaian doa seorang hamba kepada penciptanya, Allah SWT, untuk memohon ampunan atas dosa-dosanya agar ia dapat terhindar dari siksa neraka.

Dari isi doa ini terasa sekali keindahan bahasa yg digunakan dalam berkomunikasi dengan sang Maha Pengampun, selain indah penyampaiannya juga runtut dan beraturan. Dari pemilihan kata dan susunan kalimat kita sadar Abu Nawas memang seorang penyair yang sangat cerdas, alim, dan tawadhu.

Dari untaian doa ini penulis coba komentari kalimat per kalimat sebatas pemahaman yg diketahui, kita mulai dari kalimat awal,

Wahai Tuhanku, hamba tak pantas menjadi penghuni syurga.

Ucapan seorang sebagai seorang hamba yang beriman akan adanya hari akhir, hari pembalasan, jujur mengakui kekurangan, kelemahan, menyadari diri. Setiap manusia selain Rasulullah SAW pasti memiliki dosa, dosa yg terbentuk akibat ketidak patuhan melanggar perintah dan larangan Allah. Hanya manusia sombong yg merasa tidak punya dosa, merasa selalu benar, dan tidak jujur dengan tidak pernah mau mengakui kesalahan dan merasa pasti masuk Syurga. Sebagai manusia yang hidup berlumur dosa seorang hamba secara jujur mengatakan tak pantas menjadi penghuni Syurga.

Namun, hamba pun tak sanggup menjadi penghuni neraka.

Lalu jika tidak menjadi penghuni Syurga lalu apa siap menjadi penghuni neraka ? hanya ada alternatif lain yaitu penghuni neraka, namun membayangkan dahsyatnya api neraka, pedihnya siksa dan kengeriannya merasa tidaklah sanggup menjadi penghuni neraka. Jika ada yang menantang siap masuk neraka, adalah kesombongan atau ketakaburan, boleh jadi mereka yang tidak beriman pada Allah, tidak beriman pada hari akhir, adanya surga dan neraka.

Jadi adalah kesombongan jika merasa tidak punya dosa dan merasa pasti masuk syurga dan kesombongan pula jika seorang, tidak takut neraka, menantang neraka dan siap masuk neraka.

Terimalah tobat-tobat hamba dan ampunilah dosa-dosa hamba.

Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun atas segala dosa yang hamba perbuat.

Allah memiliki sifat Maha Pengampun, Maha Penerima Tobat hamba-hambanya yg memohon tobat dan ampunan, sebanyak apapun dosa yg dibuat. Karenanyalah permohonan tobat dan ampun senantiasa dipanjatkan, kepada sang Maha Pengampun dan Maha Penerima Tobat. Seorang hamba berharap sangat agar tobatnya dan diampun segala dosanya agar terhindarlah dari api neraka dan mendapat balasan Syurga.

Umurku berkurang setiap hari

sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

Wahai, Tuhanku!

Hamba Mu yang durhaka telah datang kepada Mu

dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.

Maka jika Engkau mengampuni, Engkaulah pemilik ampunan

tetapi jika Engkau menolak, kepada siapa lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Hanya Allah tempat memohon ampunan dosa, usia betrtambah seiring berkurangnya umur, dari hari kehari dosa bertambah disadari ataupun tidak. Untuk itulah istighfar, mohon ampun selalu diucapkan dipanjatkan. Demikian hanya ini saja sekelumit komentar atas syair/doa yang begitu indah dari penyair besar Abu nawas, yang dikenal juga sebagai ulama sufi.








Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Terima kasih “Dewa Kipas”

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *